Di tengah bentangan laut biru Kepulauan Riau, cerita tentang keterbatasan akses listrik bukanlah hal baru. Ratusan pulau kecil yang tersebar di gugusan ini seringkali bergelut dengan persoalan energi. Ketergantungan pada mesin diesel membuat biaya listrik melambung, sementara distribusi bahan bakar kerap terhambat cuaca.
Di antara kenyataan itu, muncul sosok perempuan bernama Yusiran, yang menghadirkan terobosan bernama Aquavoltaic—teknologi energi bersih yang mampu memberi cahaya bagi rumah-rumah pesisir dan sekaligus membuka peluang pemberdayaan ekonomi.
Pesisir yang Hidup dalam Keterbatasan
Bagi masyarakat pulau-pulau kecil di Kepri, listrik bukan hanya soal lampu menyala di malam hari. Listrik berarti anak-anak bisa belajar lebih lama, nelayan bisa menyimpan hasil tangkapan dengan lebih baik, dan perempuan bisa menjalankan usaha rumah tangga yang lebih produktif. Namun kenyataannya, banyak desa di pulau-pulau kecil hanya mendapat jatah listrik beberapa jam sehari.
“Kalau hujan deras dan kapal pasokan solar terlambat, ya gelap total. Mesin genset tidak bisa nyala,” ujar seorang nelayan di salah satu pulau. Kondisi ini mencerminkan jurang energi yang nyata di pesisir Nusantara—wilayah kaya laut, tetapi miskin akses listrik.
Inspirasi dari Laut
Yusiran, perempuan asal Kepri, memahami persoalan ini bukan sekadar dari laporan penelitian, melainkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat sekitarnya. Ia melihat laut sebagai sumber inspirasi, bukan penghalang. Dari situlah lahir gagasan Aquavoltaic: panel surya yang dipasang terapung di atas air, sekaligus terintegrasi dengan keramba jaring apung untuk budidaya ikan.
Ide ini unik. Alih-alih membangun PLTS konvensional yang butuh lahan luas di daratan, Aquavoltaic memanfaatkan ruang perairan yang melimpah. “Kami ingin teknologi ini menjawab dua masalah sekaligus: keterbatasan listrik dan kebutuhan ekonomi masyarakat pesisir,” jelas Yusiran dalam satu kesempatan.
Bagaimana Aquavoltaic Bekerja

Secara teknis, Aquavoltaic menggunakan panel surya fotovoltaik yang dipasang pada struktur terapung. Panel-panel ini menangkap energi matahari, lalu mengubahnya menjadi listrik. Keunggulannya, sistem ini bisa dipasang dekat permukiman pesisir tanpa harus mengorbankan lahan darat.
Lebih jauh lagi, struktur terapung ini dirancang menyatu dengan keramba ikan. Artinya, masyarakat tidak hanya mendapat listrik, tetapi juga fasilitas budidaya. Dengan begitu, Aquavoltaic menjadi inovasi ganda: energi dan pangan.
Selain ramah lingkungan, desain terapung membuat suhu panel tetap stabil berkat pendinginan alami dari air laut. Hal ini meningkatkan efisiensi penyerapan energi hingga 15 persen dibandingkan panel surya di darat.
Data Teknis: Kapasitas dan Efisiensi
Untuk tahap percontohan, satu unit modul Aquavoltaic menggunakan panel surya berkapasitas 450–500 watt peak (Wp). Dalam satu rakit berukuran 10 x 10 meter, bisa dipasang 40 modul dengan total kapasitas sekitar 20 kilowatt peak (kWp).
Dengan kapasitas itu, sistem mampu menghasilkan rata-rata 70–80 kilowatt jam (kWh) per hari, cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik sekitar 30–40 rumah tangga pesisir yang umumnya hanya menggunakan peralatan dasar: lampu, kipas angin, televisi, dan mesin pendingin kecil.
Dari sisi biaya, investasi awal untuk satu unit rakit Aquavoltaic berkisar antara Rp400–500 juta, tergantung kondisi lokasi dan infrastruktur pendukung. Meski terlihat besar, biaya ini sebanding dengan penghematan solar. Berdasarkan catatan tim SMARTFOCS, masyarakat yang biasanya menghabiskan 200–250 liter solar per bulan untuk genset dapat menghemat hingga Rp7–8 juta per bulan setelah beralih ke Aquavoltaic.
Pemberdayaan Masyarakat Pesisir
Aquavoltaic bukan sekadar proyek teknologi, melainkan gerakan pemberdayaan. Yusiran dan timnya melibatkan masyarakat lokal sejak tahap awal: mulai dari pemasangan panel, perawatan, hingga pemanfaatan listriknya.
Nelayan yang sebelumnya hanya mengandalkan hasil tangkapan kini dapat memanfaatkan listrik untuk membekukan ikan atau mengolah hasil laut. Perempuan di pesisir pun mulai memanfaatkan energi untuk usaha kecil seperti pengeringan ikan, produksi es, hingga membuka warung dengan kulkas sederhana.
“Sekarang kami bisa simpan ikan lebih lama, tidak buru-buru harus jual murah. Lampu juga tetap nyala meski malam,” ungkap seorang ibu nelayan di Desa Tanjungpinang.
Perjalanan Penuh Tantangan
Perjalanan menghadirkan Aquavoltaic tidak mudah. Tantangan pertama adalah pendanaan. Teknologi ini memerlukan investasi awal cukup besar, sementara banyak komunitas pesisir memiliki keterbatasan finansial. Yusiran kemudian mencari dukungan dari berbagai program inkubasi wirausaha sosial, hingga akhirnya berdiri sebuah startup sosial bernama SMARTFOCS, yang menjadi wadah pengembangan Aquavoltaic.
Tantangan lain datang dari kondisi alam. Gelombang tinggi, korosi air laut, hingga badai tropis menjadi ancaman nyata bagi struktur terapung. Untuk itu, tim melakukan berbagai uji coba material: mulai dari pelampung berbahan HDPE (High-Density Polyethylene) yang tahan korosi, hingga sistem jangkar fleksibel yang bisa menyesuaikan ombak.
Meski penuh rintangan, semangat Yusiran tak padam. “Kalau menyerah di awal, masyarakat pesisir tidak akan pernah punya listrik yang adil. Saya percaya teknologi harus berpihak pada mereka yang paling membutuhkan,” katanya.
Dukungan dan Jejak Prestasi
Kiprah Aquavoltaic mulai mendapat perhatian luas. SMARTFOCS berhasil menjadi salah satu finalis Top Ten Innovators Shell LiveWire tingkat global. Dari sana, nama Yusiran dan timnya makin dikenal sebagai inovator energi dari Indonesia.
Tak hanya itu, model Aquavoltaic kini tengah dikaji untuk direplikasi di wilayah pesisir lain, termasuk pulau-pulau di Nusa Tenggara dan Maluku, yang menghadapi persoalan serupa.
Potret Masa Depan Energi di Pesisir
Apa yang dilakukan Yusiran sesungguhnya adalah membuka imajinasi tentang masa depan energi di Indonesia. Dengan lebih dari 17 ribu pulau, Indonesia menghadapi tantangan mendistribusikan listrik ke wilayah terpencil. Namun dengan teknologi desentralisasi seperti Aquavoltaic, harapan baru muncul.
Energi tak lagi harus terpusat di kota-kota besar. Ia bisa hadir langsung di jantung desa pesisir, dibangun dengan partisipasi warga, dan berkelanjutan karena memanfaatkan sinar matahari yang melimpah sepanjang tahun.
“Visi kami sederhana: suatu hari nanti, tidak ada lagi anak pulau yang belajar di bawah lampu minyak. Semua bisa mendapat listrik dari matahari,” ujar Yusiran.
Menginspirasi Generasi Muda

Lebih dari sekadar teknologi, kisah Yusiran adalah tentang perempuan yang berani melawan keterbatasan. Ia membuktikan bahwa inovasi tidak hanya lahir di laboratorium besar atau dari kota metropolitan, melainkan juga dari kepedulian pada laut dan masyarakat kecil.
Bagi banyak generasi muda di Kepulauan Riau, Yusiran menjadi teladan bahwa kembali ke desa bukan berarti mundur, tetapi justru bisa menjadi titik awal perubahan. “Anak muda pesisir harus percaya diri. Kita bisa jadi pencipta solusi, bukan sekadar penerima bantuan,” tegasnya.
Penutup
Kini, cahaya Aquavoltaic perlahan menyinari pesisir Kepulauan Riau. Di malam hari, rumah-rumah nelayan tak lagi gelap gulita. Anak-anak belajar dengan lampu terang, dan ibu-ibu tersenyum melihat usaha kecil mereka bisa berkembang. Semua berawal dari tekad seorang perempuan yang percaya bahwa laut bukan hanya tempat mencari ikan, tapi juga ruang bagi energi masa depan.
Dengan dedikasi dan inovasinya, Yusiran akhirnya dinobatkan sebagai penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2024, sebuah pengakuan atas perjuangannya membawa terang ke pelosok negeri.
Referensi
- Website resmi Astra SATU Indonesia Awards 2024 – Profil penerima penghargaan wilayah Sumatera
- Situs SMARTFOCS.org – Inovasi Aquavoltaic dan program energi pesisir
- Shell LiveWIRE Global – Daftar finalis Top Ten Innovators 2025
- Data teknis PLTS terapung (floating solar PV) dari International Renewable Energy Agency (IRENA, 2023)
- Wawancara lapangan dengan masyarakat pesisir Tanjungpinang (dikutip dari laporan media lokal)